Waktu tak ubahnya titik-titik panjang membentuk garis, menjadi kata, merangkai makna.Mungkin, sesekali kita berpikir ingin meluruskan titik-titik yang bengkong atau mungkin kita menghapus titik tersebut, sehingga menjadi kenangan manis dikala rambut kita mulai memutih kelak. Sayang seribu sayang, bak punguk merindukan bulan, muskhill kita kembali pada titik yang sama. Meski kita menangisinya dengan tetesan darah, penyesalan itu hanya akan menjadi pepesan kosong yang tiada artinya. Baik dan buruk, bahagia dan sedih, hanya sebatas penilaian yang tentunya sangat subjektif. Mungkin di masa lalu, pada titik tertentu kita merasa sangat menderita. Bahkan perasaan itu membuat kita tak hentinya menitikkan air mata. Mungkin juga serapah jahanam sempat terlontar dari mulut mungil kita pada sebuah nama dan berpikir bahwa pada saat itu habislah hidup kita. Mati. Sepertinya kita terlalu cengeng jika harus menangisi hal-hal semacam itu. Sebab, dititik lain, kita merasa begitu bungah akan apa...
Life is like a coffee. Just enjoy it.