Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Menyuji Mimpi

Saat pertama dua pasang mata kita beradu, aku tahu, ada yang ingin kupersembahkan padamu. Cinta dan ketertarikan ini adalah hutang rasa yang harus kembali, meski engkau tidak pernah menagihnya. Engkau pun punya hutang padaku, karena engkau pula yang menyebabkan rasa ini tercipta. Semesta akan mencatat perhitungan ini dengan cermatnya. Ia berjalan sendiri, menggerai rambut hitam panjangnya yang basah seusai mandi. Di kali. Titik-titik air berjatuhan di pipinya, di gaunnya, di tanah. Angin menyibak kembali rambut yang menutup sayu wajahnya. Mungkin ingin menyapa atau sekadar membelainya. Tersenyum ia dalam titik-titik air. Sayang, aku hanya kuasa memandangnya dari sela-sela daun jambu. Ia pun menghilang di balik dedaunan ketika aku terlena dalam lamunanku, sementara aku tetap di sini. Di sela daun jambu, merindui. Aku cemburu entah pada siapa. Perasaan ini, cemburu ini, semakin mempercantik parasnya dari hari ke hari. Aku tak tahu, apa esok atau lusa, atau ...