Langsung ke konten utama

Titik



Waktu tak ubahnya titik-titik panjang membentuk garis, menjadi kata, merangkai makna.Mungkin, sesekali kita berpikir ingin meluruskan titik-titik yang bengkong atau mungkin kita menghapus titik tersebut, sehingga menjadi kenangan manis dikala rambut kita mulai memutih kelak. Sayang seribu sayang, bak punguk merindukan bulan, muskhill kita kembali pada titik yang sama. Meski kita menangisinya dengan tetesan darah, penyesalan itu hanya akan menjadi pepesan kosong yang tiada artinya.

Baik dan buruk, bahagia dan sedih, hanya sebatas penilaian yang tentunya sangat subjektif. Mungkin di masa lalu, pada titik tertentu kita merasa sangat menderita. Bahkan perasaan itu membuat kita tak hentinya menitikkan air mata. Mungkin juga serapah jahanam sempat terlontar dari mulut mungil kita pada sebuah nama dan berpikir bahwa pada saat itu habislah hidup kita. Mati.

Sepertinya kita terlalu cengeng jika harus menangisi hal-hal semacam itu. Sebab, dititik lain, kita merasa begitu bungah akan apa yang terjadi pada diri kita. Orang-orang di sekeliling kita mempersembahkan yang terbaik dari apa yang mereka miliki untuk kita seorang. Rasanya bunga-bunga cinta bertaburan di sekeliling kita hingga membuat kita melayang tinggi ke langit tak berbilang. Dunia rasanya milik kita seorang. Jika kita mengingat hal ini pada titik masa berikutnya, rasanya tak sepantasnya serapah jahanam itu keluar dari mulut kita.

Jika sudah demikian, sepatutnya kita kembali berpikir tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Percayalah, saat kita sedang dilanda sedih, di depan sana ada titik yang siap membahagiakan kita. Begitu halnya sebaliknya. Mari, coba berpikir secara jernih, mari kita gunakan tinta terbaik kita untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi sebuah maha karya yang tak ternilai harganya.

Jika kau merasa pusing memahami tulisanku ini, aku bisa memaklumi. Karena aku sendiri sebenarnya tak paham akan apa yang aku tuliskan. Aku hanya menghabungkan beberapa titik-titik menjadi huruf, menjadi kata-kata tentang apa yang kurasakan pada masa lalu. Barang kali, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menjalankan lakuku sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai seorang anak dan, sebagai bagian dari masyarakat. Bahwa hidup bukanlah masa lalu, juga bukan masa mendatang, tinggal bagaimana kita memandang dan menjalaninya.


 Catur Warna, Ngemplak, 30/08/2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

Sejarah Berdiri PPMI Assalaam Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam merupakan karya besar yang lahir dari kegiatan pengajian keluarga. Bermula dari kecintaan H. Abdullah Marzuki dan istri, Hj. Siti Aminah, terhadap kegiatan pengajian keislaman Bapak H. Abdullah Marzuki di sela-sela kesibukan mengelola bisnis penerbitan Tiga Serangkai (TS), beliau mengajak semua keluarga, termasuk keluarga pegawai TS, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian demi meningkatkan kualitas Ilmu, iman, Islam, dan amal saleh. Di lihat dari latar belakang keluarga, sejak awal keluarga H. Abdullah Marzuki memiliki komitmen yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebelum terjun ke dunia penerbitan dan percetakan, beliau dan istri sudah menjalankan profesi sebagai guru ( mu’allim ). Jiwa mendidik ini menggelora dan mendarah daging dalam urat nadi keluarga beliau sehingga di mana pun beliau berada selalu peduli terhadap pendidikan. Kepedulian beliau terhadap pendidika...

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof [i] Oleh: Ngabdulloh Akrom Abstraksi Keterpilahan antara kesadaran [mind] dan materi [matter]—dualisme cartesian—dianggap ikut bertanggung jawab terhadap munculnya pelbagai krisis global, seperti krisis ekologi, kekerasan, konflik yang makin mengental, reifikasi, alienasi, dan dehumanisasi. Fenomena ini juga tidak dapat lagi dugunakan untuk memahami fenomena-fenomena fisis, biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling terkait satu sama lain. [ii] Sekilas melihat, begitu mengerikan dampak dari dualisme-cartesian. Karena pernyataan di ataslah penulis ingin mengkaji lebih terperinci mengenai dualisme-cartesian. Dalam makalah ini, penulis mencoba melihat secara kritis apa itu dualisme-cartesian, dan membandingkan pemikiran antara Descartes, Hobbes, Locke dan Leibniz mengenai dualisme-cartesian. Untuk sistematika penulisannya, penulis melihat bagaimana pemikiran Descartes mengenai hubungan antara ji...

BIDAYAH AL-HIKMAH: Mukadimah

BIDAYAH AL-HIKMAH (karya: Allamah Thabathaba’i) Oleh: Ngabdulloh Akrom PENDAHULUAN Dengan nama Allah,  Mahamemberi dan Mahapengampun. Segala puji hanya bagi - Nya, tempat kembali segala realitas. Shalawat dan salam atas rasul, dan Muhammad ciptaan terbaikNya, dan ahlul baitNya yang sucikan. Definisi, Subjek, dan Tujuan dari Hikmah Metafisikan (Hikmah al-Ilahiyah), secara literal berarti kearifan ilahi ( divine wisdom ) adalah disiplin ilmu yang membahas perihal eksistensi ( wujud ) sebagai mana adanya ia ( wujud bima huwa maujud ). Subjeknya berkaitan dengan sifat esensial (essential properties/’ awâridh dzatî  ) dari wujud itu sendiri. Tujuanya adalah mengetahui berbagai wujud secara general untuk memisahnya dari wujud non-hakikat (realitas semu). Sebagai contoh; ketika seseorang memikirkan tentang dirinya, maka ia menemukan adanya realitas di dalam dirinya. Dia juga menemukan adanya realitas di luar dirinya yang juga hakiki dan ia bisa mengetahui keberadaan wujud (being) y...