Langsung ke konten utama

BIDAYAH AL-HIKMAH: Mukadimah

BIDAYAH AL-HIKMAH
(karya: Allamah Thabathaba’i)
Oleh: Ngabdulloh Akrom

PENDAHULUAN
Dengan nama Allah,  Mahamemberi dan Mahapengampun. Segala puji hanya bagi-Nya, tempat kembali segala realitas. Shalawat dan salam atas rasul, dan Muhammad ciptaan terbaikNya, dan ahlul baitNya yang sucikan.

Definisi, Subjek, dan Tujuan dari Hikmah
Metafisikan (Hikmah al-Ilahiyah), secara literal berarti kearifan ilahi (divine wisdom) adalah disiplin ilmu yang membahas perihal eksistensi (wujud) sebagai mana adanya ia (wujud bima huwa maujud). Subjeknya berkaitan dengan sifat esensial (essential properties/’awâridh dzatî ) dari wujud itu sendiri. Tujuanya adalah mengetahui berbagai wujud secara general untuk memisahnya dari wujud non-hakikat (realitas semu).
Sebagai contoh; ketika seseorang memikirkan tentang dirinya, maka ia menemukan adanya realitas di dalam dirinya. Dia juga menemukan adanya realitas di luar dirinya yang juga hakiki dan ia bisa mengetahui keberadaan wujud (being) yang di luar tersebut. Dan ia tidak mungkin mencari sesuatu yang tidak ada, atau mustahil menjauhi sesuatu yang tidak real (waqi’) atau juga mempertahankan diri dari sesuatu yang semu.
Anak kecil ketika ingin menetek susu –misalnya- ia akan mencari susu yang benar-benar ada dan bukan apa yang yang dibayangkan sebagai susu. Demikian juga seseorang akan melarikan diri dari Singa yang real dan bukan singa yang tidak real. Walaupun kadang-kadang, mungkin saja seseorang salah mempersepsi yang tidak ada dianggap ada. Seperti menganggap adanya hantu, atau monster. Atau sebaliknya menganggap yang real seperti seperti ruh yang immaterial (nafs al-mujarradah) atau akal yang immaterial (intelect/al-‘aql mujarraddah) tidak real.
Maka dalam hal ini memang diperlukan suatu pengetahuan tentang karakteristik esensial dari being qua being (maujud bima huwa maujud). Untuk memisahkan dari yang tidak wujud. Ilmu yang menguliti hal tersebut dinamai Hikmah Ilahiyah (metafisik). Hikmah Ilahiyah ini juga dinamai dengan filsafat Ula (the First Philosophy) dan ilmu yang tinggi (al-‘ilm al-‘ala/Higher Science). Objeknya adalah being qua being. Tujuannya adalah untuk membedakan wujud-wujud yang hakiki dari yang tidak hakiki, dan mengetahui al-‘illat al’âliyah (the Higher Cause/ilat-ilat yang tertinggi) dari wujud dan lebih spesifik lagi ilat ulâ (The First Cause) yang menjadi perhentian dari seluruh rangkaian wujud-wujud. Dan nama-nama yang Indah (asmaul husnâ) serta sifat-sifat-Nya yang Mulia dari Allah Swt.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

Sejarah Berdiri PPMI Assalaam Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam merupakan karya besar yang lahir dari kegiatan pengajian keluarga. Bermula dari kecintaan H. Abdullah Marzuki dan istri, Hj. Siti Aminah, terhadap kegiatan pengajian keislaman Bapak H. Abdullah Marzuki di sela-sela kesibukan mengelola bisnis penerbitan Tiga Serangkai (TS), beliau mengajak semua keluarga, termasuk keluarga pegawai TS, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian demi meningkatkan kualitas Ilmu, iman, Islam, dan amal saleh. Di lihat dari latar belakang keluarga, sejak awal keluarga H. Abdullah Marzuki memiliki komitmen yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebelum terjun ke dunia penerbitan dan percetakan, beliau dan istri sudah menjalankan profesi sebagai guru ( mu’allim ). Jiwa mendidik ini menggelora dan mendarah daging dalam urat nadi keluarga beliau sehingga di mana pun beliau berada selalu peduli terhadap pendidikan. Kepedulian beliau terhadap pendidika...

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof [i] Oleh: Ngabdulloh Akrom Abstraksi Keterpilahan antara kesadaran [mind] dan materi [matter]—dualisme cartesian—dianggap ikut bertanggung jawab terhadap munculnya pelbagai krisis global, seperti krisis ekologi, kekerasan, konflik yang makin mengental, reifikasi, alienasi, dan dehumanisasi. Fenomena ini juga tidak dapat lagi dugunakan untuk memahami fenomena-fenomena fisis, biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling terkait satu sama lain. [ii] Sekilas melihat, begitu mengerikan dampak dari dualisme-cartesian. Karena pernyataan di ataslah penulis ingin mengkaji lebih terperinci mengenai dualisme-cartesian. Dalam makalah ini, penulis mencoba melihat secara kritis apa itu dualisme-cartesian, dan membandingkan pemikiran antara Descartes, Hobbes, Locke dan Leibniz mengenai dualisme-cartesian. Untuk sistematika penulisannya, penulis melihat bagaimana pemikiran Descartes mengenai hubungan antara ji...