Oleh: Ngabdulloh Akrom
Berdirinya sebuah peradaban agung bergantung pada bagaimana worldview (pandangan dunia) sebuah masyarakat dalam memposisikan ilmu pengetahuan. Tak diragukan lagi, peradaban Islam sempat menjadi mercusuar peradaban dunia yang pernah menjadi sumber pencerahan zaman. Toby E. Huff berpendapat, “Dari abad kedelapan hingga akhir abad keempat belas, Ilmu pengetahuan Arab (Islam) barangkali adalah sains yang paling maju di dunia, jauh melampaui Barat dan Cina (The Rise of Early Modern Science, Islam, China, and the West: 1995). Dorongan agama, apresiasi masyarakat, dan patronase penguasa adalah tiga faktor penting yang melatarbelakangi lahirnya filosof-filosof seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, serta para ilmuan semasa. Lantas, apa yang salah dengan umat Islam sehingga kini jauh tertinggal dari bangsa Eropa?
Ketertinggalan umat Islam dari bangsa Eropa, tidak lantas bisa kita jadikan dalil untuk mengadobsi secara menyeluruh segala bentuk paradigma berpikir, bahkan life style bangsa Eropa. Setiap wilayah memiliki kearifan lokal masing-masing yang tidak bisa kita paksa-gunakan di tempat lain. Kita perlu melakukan introspeksi atas berbagai masalah yang dihadapi umat Islam, karena sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam sempat berada di puncak keemasan. Ismail Raji al-Faruqi berpendapat, “Ketertinggalan peradaban Islam dari dunia Barat dikarenakan sistem pendidikan yang melakukan pemisahan antara muslim dengan agamanya sendiri”. Sebuah peradaban bisa kita katakan Islami, bukan ketika terdapat label Islami bertaburan di sana-sini. Melainkan ketika di dalamnya tercermin nilai-nilai syariah (dalam arti sesungguhnya, bukan syariah yang dipersempit sebagai fiqh), dengan kata lain peradaban Islami merupakan representasi syariah secara integral pada setiap lini kehidupan, bukan pada sesuatu yang sifatnya partikular dan aksidental layaknya sebuah jubah yang melekat pada tubuh kita.
Untuk merekontruksi peradaban Islam, diperlukan adanya pembenahan pada sistem pendidikan agar umat Islam kembali menemukan jati diri sebagai Muslim. Menurut Ziadudin Sardar, kesemuanya itu hanya mungkin bisa teraktualisasi melalui reorientasi radikal terhadap ilmu pengetahuan—dari masalah padangan dunia, hingga epistemologi.
Pandangan dunia adalah konstruk pemikiran yang muncul dari sebuah kesimpulan, penafsiran, hasil kajian, yang ada pada seseorang berkenaan dengan alam semesta, manusia, masyarakat dan sejarah. Masalah epistemologi merupakan titik berangkat lahirnya sebuah pandangan dunia yang menentukan ideologi manusia.
Ideologi memberikan sederetan perintah dan larangan bagi manusia. Ia mengajak manusia pada sebuah tujuan tertentu serta menunjukkan jalan yang dapat mengantarkan sampai tujuan tersebut. Kekeliruan sebuah ideologi memungkinkan rubuhnya peradaban manusia di tangannya sendiri.
Francis Bacon terkenal dengan adagium knowledge is power. Dengan kekuatan pengetahuan, Alam—termasuk manusia di dalamnya—diposisikan sebagai sebuah objek yang seharusnya ditundukkan berdasarkan asas pragmatis yang sarat paradigma rasional-instrumental. Alam diekplositasi secara besar-besaran. Manusia mulai didestruksi dari nilai-nilai kemanusiaannya. Terlebih ketika paradigma rasional-instrumental dikawinkan dengan teori evolusi Darwin. Gabungan paradigma ini akan menciptakan manusia berkarakter individualis yang tercerabut dari akar fitrahnya sebagai manusia. Padahal dalam teks suci al-Qur’an ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain dan hidup bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat yang harmonis, hanya mungkin tercipta dengan adanya sistem pendidikan yang benar. Sistem pendidikan sekolah adalah salah satu bagian saja dari sebuah proses pendidikan yang cakupannya begitu luas dan prosesnya berlangsung hingga kita berkalang tanah.
Sangat disayangkan, kini sistem pendidikan telah direduksi menjadi sebuah pendidikan di ruang tertutup dan kembali direduksi menjadi semacam short course yang hanya mengandalkan kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Sistem pendidikan pedagogi memperlakukan anak didik seperti anak-anak, di mana mereka sangat bergantung pada teks dan eksistensi seorang guru yang penuh setia membodohkan murid-muridnya secara tidak langsung. Anak didik tidak diajarkan sistem pendidikan andragogi yang mendewasakan pemikiran. Mereka tidak diajarkan melalui permasalahan yang memiliki relevansi langsung dengan kahidupan pribadinya. Three idiot, barangkali salah satu film Bollywood yang bisa kita jadikan referensi dalam belajar, secara menarik film tersebut sarat akan kritik terhadap sistem pendidikan pedagogik.
Konsep yang tak kalah penting untuk disimak dalam dunia pendidikan ialah Life skills. Adalah kesalahpahaman umum yang acapkali kita temukan di kalangan masyarakat, termasuk di dunia pendidikan yang mengartikan istilah tersebut sebagai sebuah ketrampilan vokasional yang diperlukan dalam dunia kerja. Padahal, istilah ini memiliki pengertian lebih luas. Keterampilan vokasional hanya satu bagian kecil konsep dari life skills. Lebih dari itu, ia mencakup keterampilan personal, keterampilan sosial, dan keterampilan akademik. Life skills adalah segala ketrampilan yang dibutuhkan dalam mengarungi samudera kehidupan. Lantas, seperti apakah spirit pendidikan dalam Islam?
Tarbiyah merupakan sebuah istilah bahasa Arab yang berarti pendidikan, sebuah kata sarat makna masih seakar kata dengan riba (uang yang selau berkembang), rabwah (tanah tinggi), dan rabb, asma Ilahi yang senantiasa memelihara, mencintai, dan mendidik. Jadi, pendidikan adalah sebuah usaha terencana untuk mencintai, memelihara, dan memupuk anak didik agar tumbuh berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya, sehingga menjadi manusia mandiri dan produktif serta senantiasa mengarahkan hidupnya pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang merupakan sifat Illahi.
Sebagai seseorang beridentitas Muslim, sudah sepatutnya kita menggali khazanah dibalik segala penciptaan alam semesta ini. Dalam sebuah hadis masyhur tradisi sufistik, Rasulullah menjelaskan mengapa Allah menciptakan alam semesta:
“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu ‘an u’raf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf”. (Aku adalah khazanah tersembunyi [hidden treasure], dan Aku ingin diketahui. Karena itu, Aku mencipta makhluk agar Aku bisa diketahui).
Dari hadis di atas, secara gamblang kita dapat melihat bahwa spirit dari penciptaan kosmos tak lain tak bukan hanya untuk mengenal diri-Nya. Dalam hadis yang lain, kita dapat menenemukan penjelasan ihwal mengenal Illah, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” (Siapa saja yang mengenal jiwanya [dirinya], maka telah mengenal Tuhannya). Jadi, manusia harus mengenal hakikat dirinya untuk mengenal Allah. Jika manusia telah mengenal Allah, maka lahirlah sosok abdullah yang hidup berlandaskan Tauhid. Secara vertikal, sosok pribadi yang demikian hanya mau bersujud kepada Allah. Seorang abdullah memiliki misi sebagai khalifatullah. Dalam setiap tindak-tanduknya mencerminkan nilai-nilai Islam yang merupakan representasi syariah, dengan demikian akan terwujudlah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. []
Ciputat, 11 november 2010
Komentar
Posting Komentar