Langsung ke konten utama

Masihkah Kita Memerlukan Nabi Baru?[*]

Ngabdulloh Akrom

Abstraksi
Pergeseran paradigma theomorpisme menjadi antropomorpisme, diyakini bahwa manusia dengan nalarnya mampu mengatasi segala masalah hidupnya sendiri. Kesadaran personal mengenai eksistensi diri, menjadikan manusia berwatak individualistik, pragmatistik dan hedonistik. Manusia menjadi penentu bagi dirinya sendiri, hal ini mengakibatkan keterputusan nilai-nilai spiritualitas. Akibatnya, manusia modern tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidupnya sendiri. Secara garis besar, tulisan yang sedang saudara baca ini hendak memaparkan relevansi kenabian dikancah dunia modern.

Kata kunci: modernisme, spiritual[itas], kenabian


Pendahuluan
Kelahiran abad modern, ditengarai adanya kesadaran manusia akan kemampuan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya sendiri. Manusia sebagai hewan rasional, merasa independen dari Tuhan dan alam. Hal ini, berawal pada masa renaisance, dengan keluarnya tesis cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) oleh Descartes. Metode meragu Descartes menghasilkan res cogitan (subjek/mind) dan res extansa (objek/matter) yang merupakan dua hal yang sama sekali terpisah. Keterpilahan antara kesadaran [mind] dan materi [matter]—dualisme-cartesian—dianggap ikut bertanggung jawab terhadap munculnya pelbagai krisis global, seperti krisis ekologi, kekerasan, konflik yang makin mengental, reifikasi, alienasi, dan dehumanisasi. Fenomena ini juga tidak dapat lagi dugunakan untuk memahami fenomena-fenomena fisis, biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling terkait satu sama lain.[1]
Bangunan epistemologi tersebutlah yang menjadi dasar dari tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi abad modern. Kesadaran personal mengenai eksistensi diri, menjadikan manusia berwatak individualistik, pragmatistik dan hedonistik. Paradigma yang tadinya theomorphisme beralih menjadi antropomorphisme, di mana tatanan kehidupan berpusat pada manusia. Melalui nalarnya, manusia merasa mampu mengatasi segala bentuk masalah yang dihadapinya.
Kecenderungan manusia modern adalah mencoba berlari dari cahaya ilahi dengan menciptakan sains yang tidak berdasarkan pada cahaya intelek, akan tetapi penggunaan nalar yang berlandaskan pada pengetahuan inderawi. Sehingga, peradaban modern didirikan berlandasan mengenai manusia yang tidak menyertakan hal yang paling esensial dari manusia itu sendiri. Akibatnya, manusia yang menggunakan daya teknologi yang serba mekanis dan otomatis untuk mengumpulkan harta duniawi, bukanlah kebahagian yang mereka dapati, melainkan rasa was-was atas apa yang telah didapatkannya, dengan kata lain ‘manusia modern tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidupnya sendiri.’ Manusia modern yang cenderung meninggalkan sumber-sumber Ilahi yang transenden, mereka lebih memilih daya rasional dan teknologi yang mereka miliki. Maka terjadilah desakralisasi.
Proses sekularisasi kesadaran ini, menyebabkan manusia modern kehilangan self control sehingga mudah dihinggapi pelbagai penyakit rohaniah; ia menjadi lupa akan siapa dirinya, dan untuk apa hidup ini serta ke mana sesudahnya.
Pola kehidupan modern yang demikian, menyebabkan manusia merasakan kehampaan hidup. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadaran dan pola kehidupan baru. Dalam hal kesadaran manusia, secara praktis, timbul gejala pencarian makna hidup dan upaya penemuan diri sarat spiritualitas. Manusia modern mulai menaruh perhatian terhadap paranormal, kepercayaan atas reinkarnasi, metode penyembuhan yang mencakup perbaikan-diri, berpikir positif, pesan-pesan yang diduga tersingkap dari pelbagai sumber transenden, tarot, astrologi, dan lain sebagainya. Selain itu Fenomena-fenomena maraknya pengakuan diri sebagai Nabi atau pembawa risalah, adalah salah satu bukti adanya kehausan spiritualitas yang terjadi pada manusia modern. Menariknya, mereka juga meyakini kenabian Nabi Muhammad saw?
Kalau hanya dengan indera dan daya nalarnya manusia mampu mengatasi pelbagai masalah hidupnya, lantas kenapa Allah harus mengutus nabi? Apakah mungkin Allah melakukan kesia-siaan atas tindakanNya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
 “….. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka.[2]
Urgensi Kenabian
Mengenai pertanyaan kenapa diutusnya para Nabi, Allah berfirman;
“Manusia itu adalah umat yang satu. [setelah timbul perselisihan], maka allah mengutus para nabi, meberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”[3]
Allah telah menciptakan indera dan akal kepada manusia sebagai sarana untuk menggapai kesempurnan. Ketika manusia menggunakan akal mereka dan mampu terlepas dari kesesatan-kesesatan berpikir yang ada, niscaya manusia mampu memahami wahyu dan juga mampu memilih jalan hidup yang benar. Sarana pengetahuan itu adalah wahyu. Wahyu adalah bentuk pengajaran ilahi yang diberikan secara khusus kepada hamba-hamba Allah yang shaleh. Manusia biasa tidak akan mampu mengetahui hakikat wahyu, karena pada umumnya manusia tidak mampu melihat bentuk nyata hakikat pada diri mereka. Mereka hanya mampu membaca tanda-tanda yang ada.
“Allah tidak akan menampakkan hal gaib kepada kalian, tetapi Ia memilih utusan-utusan-Nya dengan kehendak-Nya.”[4]
Karena keberbedaan kemampuan manusia satu dengan manusia lainnya dalam menggunakan akalnya, menjadi keharusan bagi Tuhan untuk mengutus hamba-hamba yang shaleh (nabi), untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu kepada umat manusia, karena nabi adalah seorang mubayyin atas wahyu yang dibawanya, bukan seorang muffasir yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu untuk memperoleh pemahaman tertentu juga dalam periode tertentu pula.
Salah satu tugas penting lainnya yang diemban para Nabi adalah membebaskan umat mereka dari himpitan penindasan penguasa yang lalim. Namun tindakan para nabi ini nyata-nyata berbeda dengan para pemimpin politik dari berbagai pemerintahan di zaman kita sekarang ini.[5] Al-Qur’an mengkisahkan:
“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskan bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.”[6]
Selain menambal-sulam kekurangan indera dan akal dalam menggapai kebenaran Absolut, Nabi juga memiliki peran yakni menunjukkan jalan hidup kepada kaumnya dalam menggapai kesempurnaan manusia:
  1. Begitu banyak ilmu pengetahuan yang mampu dijangkau oleh akal manusia. Namun, semua itu memerlukan waktu, apalagi kesadaran manusia mengenai masalah ukhrawiyah mulai terhijab dengan kepentingan-kepentingan duniawi. Maka dari itu, perlu adanya seorang nabi untuk memberi peringatan kepada manusia, untuk menyadarkan manusia kepada hal ukhrawi. Maka dari itu di dalam al-Qur’an sering menyebut para nabi dengan adz-Dzikr, adz-Dzikra, dan at-Tadzkirah[7].
  2. Salah satu faktor penting dalam pendidikan dan penyempurnaan manusia ialah adanya suri teladan yang baik dalam berbuat. Allah berfirman:
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[8]
Para nabi hadir dihadapan umat sebagai teladan. Mereka mengajar ajaran ilahi melalui pembersihan hati. M.T Mishbah Yazdi menyatakan; “Para nabi adalah manusia-manusia sempurna yang mendapatkan didikan dan perhatian ilahi.”[9]
  1. Kehadiran para nabi di tengah umat, dalam kondisi yang memungkinkan—mereka adalah perwakilan Allah di muka bumi—, mereka akan memegang kendali sosial-politik umat manusia. Dengan kemaksumannya, ia akan mengatasi persoalan-persoalan sosial yang ada. Dengan terpenuhinya segala unsur yang ada, maka para nabi dapat menuntun manusia menuju kesempurnaan yang sesungguhnya.
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”[10]
Kenabian terakhir
Jika peran nabi dalam menghantarkan manusia kepada kesempurnaannya. Kenapa kenabian hanya terhenti pada Nabi Muhammad saw., tidak seperti masa-masa sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.? Murtadha Muthahhari (MM), seorang filosof muslim kontemper, memiliki argumentasi yang menarik untuk kita simak bersama mengenai kenabian terakhir. Tanpa bermaksud mengurangi hormat atas kebijaksanaan beliau dalam masalah keislaman. Setidaknya demikian MM argumentasi kenapa kenabian berhenti pada Muhammad saw..
Pertama, umat manusia zaman dahulu tidak mampu menjaga kelestarian Kitab Suci disebabkan kurangnya perkembangan mental dan kematangan berpikir mereka.[11] Kitab-kitab suci diubah dan didistorsi atau dirusak isinya sama sekali, hingga diperlukan pemurnian pesan. Karena terdapat evolusi kedewasaan manusia, lain hal ketika telah masuk masa kenabian Muhammad saw. Pada masa itu, umat manusia telah melampaui masa kanak-kanaknya dan mampu menjaga kelestarian khazanah ilmiah dan keagamaannya. Setiap kali wahyu diturunkan, umat muslim merekamnya dalam ingatan dan kemudian dituliskan dengan metode pengumpulan tertentu pada periode berikutnya. Oleh karena itu, pada masa kini kita tak lagi membutuhkan adanya kitab suci baru, sebab tidak mungkin lagi terjadi pendistorsian Kitab Suci seperti pada masa sebelumnya.
Kedua, dalam masa-masa sebelumnya, umat manusia, karena kurangnya kematangan dan pertumbuhan, tidak mampu menerima suatu program umum bagi jalan yang mereka tempuh, dan tidak mampu melanjutkan perjalanan mereka di jalan yang mereka tempuh itu dengan bimbingan program tersebut.[12] Lain hal dengan ulama muslim yang menggunakan kaidah-kaidah umum yang diajarkan Islam, maka masalah-masalah kontemporer perihal agama, dapat dijawabnya. Implikasi logisnya, kita tak lagi membutuhkan adanya risalah baru atau adanya Nabi baru.
Ketiga,sebagian besar nabi-nabi, atau lebih tepatnya mayoritas mereka , adalah nabi-nabi pendakwah dan bukannya pembawa hukum Ilahi. Jumlah Nabi yang membawa hukum Ilahi mungkin sekali tidak melebihi jumlah jari-jari tangan. Pekerjaan nabi pendakwah hanyalah mempromosikan, menyebarkan dan melaksanakan tafsiran-tafsiran hukum Ilahi yang berlaku pada masa mereka.[13] Para ulama pada masa Nabi Muhammad saw., mampu mengadaptasikan ajaran-ajaran umum al-Qur’an terhadap masa tempat serta tuntutan dan kondisi-kondisi yang ada.
Hampir setiap argumentasi MM di atas, menekankan bahwa kematangan daya intelektual manusia dan pertumbuhan sosial manusia memiliki peran penting dalam berakhirnya kenabian. Maka dari itu, kita tidak lagi membutuhkan adanya risalah baru atau Nabi baru. Maka dari itu, obat dari  Pelbagai krisis yang dihadapi manusia modern, dapat kita temukan dalam agama. Secara personal dapat kita lihat pada diri Nabi Muhammad saw. yang memiliki kesalehan moral individu sebagai suri teladan yang baik.[]
Wallahu a’lam.


Catatan Akhir


[*] Artikel ini dimuat dalam Jurnal HAWZAH Volume 1 No. 3 April 2010
[1] Husain Heriyanto, 2003. Paradigma Holistik; Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Terajau. hlm. 14.
[2] QS. Ali Imran: 191.
[3] QS. al-Baqarah: 213.
[4] QS. Ali Imran: 179.
[5] Prof. Muhsin Qiraati. 2007. Ushuluddin. Jakarta: Cahaya. hlm. 303.
[6] QS. Thaha: 47.
[7] Imam Ali memaparkan tentang hikmah diutusnya nabi;
Sesungguhnya para nabi di utus supaya mereka dapat mengembalikan umat manusia kepada ikrar fitrahnya—kembali kepada Allah—, dan dan mengingatkan mereka akan nikmat yang telah dilupakannya, serta supaya mereka menyempurnakan hujah mereka atas manusia melalui tablig.
[8] QS. al-Ahzab: 21.
[9] M.T Mishbah Yazdi, 2005. Iman Semesta: Merancang Piramida Keyakinan. Jakarta: al-Huda. hlm. 178.
[10] QS. al-Anbiyaa’: 73.
[11] Murtadha Muthahhari, 1991. Falsafah Kenabian. Jakarta: Pustaka Hidayah. hlm. 39
[12] Ibid. hlm. 40
[13] Ibid. hlm. 40

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

Sejarah Berdiri PPMI Assalaam Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam merupakan karya besar yang lahir dari kegiatan pengajian keluarga. Bermula dari kecintaan H. Abdullah Marzuki dan istri, Hj. Siti Aminah, terhadap kegiatan pengajian keislaman Bapak H. Abdullah Marzuki di sela-sela kesibukan mengelola bisnis penerbitan Tiga Serangkai (TS), beliau mengajak semua keluarga, termasuk keluarga pegawai TS, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian demi meningkatkan kualitas Ilmu, iman, Islam, dan amal saleh. Di lihat dari latar belakang keluarga, sejak awal keluarga H. Abdullah Marzuki memiliki komitmen yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebelum terjun ke dunia penerbitan dan percetakan, beliau dan istri sudah menjalankan profesi sebagai guru ( mu’allim ). Jiwa mendidik ini menggelora dan mendarah daging dalam urat nadi keluarga beliau sehingga di mana pun beliau berada selalu peduli terhadap pendidikan. Kepedulian beliau terhadap pendidika...

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof [i] Oleh: Ngabdulloh Akrom Abstraksi Keterpilahan antara kesadaran [mind] dan materi [matter]—dualisme cartesian—dianggap ikut bertanggung jawab terhadap munculnya pelbagai krisis global, seperti krisis ekologi, kekerasan, konflik yang makin mengental, reifikasi, alienasi, dan dehumanisasi. Fenomena ini juga tidak dapat lagi dugunakan untuk memahami fenomena-fenomena fisis, biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling terkait satu sama lain. [ii] Sekilas melihat, begitu mengerikan dampak dari dualisme-cartesian. Karena pernyataan di ataslah penulis ingin mengkaji lebih terperinci mengenai dualisme-cartesian. Dalam makalah ini, penulis mencoba melihat secara kritis apa itu dualisme-cartesian, dan membandingkan pemikiran antara Descartes, Hobbes, Locke dan Leibniz mengenai dualisme-cartesian. Untuk sistematika penulisannya, penulis melihat bagaimana pemikiran Descartes mengenai hubungan antara ji...

BIDAYAH AL-HIKMAH: Mukadimah

BIDAYAH AL-HIKMAH (karya: Allamah Thabathaba’i) Oleh: Ngabdulloh Akrom PENDAHULUAN Dengan nama Allah,  Mahamemberi dan Mahapengampun. Segala puji hanya bagi - Nya, tempat kembali segala realitas. Shalawat dan salam atas rasul, dan Muhammad ciptaan terbaikNya, dan ahlul baitNya yang sucikan. Definisi, Subjek, dan Tujuan dari Hikmah Metafisikan (Hikmah al-Ilahiyah), secara literal berarti kearifan ilahi ( divine wisdom ) adalah disiplin ilmu yang membahas perihal eksistensi ( wujud ) sebagai mana adanya ia ( wujud bima huwa maujud ). Subjeknya berkaitan dengan sifat esensial (essential properties/’ awâridh dzatî  ) dari wujud itu sendiri. Tujuanya adalah mengetahui berbagai wujud secara general untuk memisahnya dari wujud non-hakikat (realitas semu). Sebagai contoh; ketika seseorang memikirkan tentang dirinya, maka ia menemukan adanya realitas di dalam dirinya. Dia juga menemukan adanya realitas di luar dirinya yang juga hakiki dan ia bisa mengetahui keberadaan wujud (being) y...