Langsung ke konten utama

Postingan

8 Tips Menulis Novel Fiksi ala Paulo Coelho

Bagi Anda para pecinta fiksi mistik, sufistik atau filosofis, tentu tak asing dengan nama penulis berdarah Amerika Latin, Paulo Coelho. Dari tangannya, terlahir karya masyhur seperti; The Alchemist, The Zahir, The Witch of Portobello, Eleven Minutes, The Winner Stands Alone dan sebagainya. Karya-karyanya telah terjual lebih dari 100 juta kopi, diterjemahkan dalam 67 bahasa di 150 negara di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Dalam web blog pribadinya, Coelho berbagi tips cara menulis buku atau novel sebagaimana pengalamannya selama ini kepada para penggemarnya. Berikut adalah beberapa cara yang perlu harus lakukan: Pertama, Keyakinan. Anda tidak bisa menjual buku yang diterbitkan berikutnya jika kita memandang rendah buku yang baru saja Anda terbitkan. Jadi, berbanggalah dengan apa yang Anda miliki. Ke dua, Percaya. Percayalah kepada pembaca, jangan menjelaskan sesuatu terlalu detail. Cukup beri petunjuk dan, biarkan para pembaca memenuhi petunjuk tersebut de...

Klazo

Jakarta menjerit! Begitulah gambaran warga Jakarta saban harinya. Sudah lama saya ingin menuliskan ini . Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Ibukota. Saya merasa aneh dengan polah warga Jakarta. Apakah memang semua jagoan, merasa yang punya jalan,   atau mungkin mengalami gangguan kejiwaan sehingga mereka harus menjerit di sepanjang jalan? Mungkin juga jeritan tersebut merupakan gambaran batin yang meronta-ronta, memohon ampun dari siksa macet yang telah menguras uang mereka ? Klazo adalah istilah Yunani yang berarti menjerit. Pangkal kata dari klakson. Sebuah alat yang mulai digunakan sejak 1908 yang ditemukan kerabat Thomas Edison, Miller Reese Hutchison . Dengan daya elektromagnet dan kawat spiral, klakson bekerja sedemikian rupa hingga menimbulkan laungan sekian skala kekuatan suara. Waktu masih kecil, saat Bapak mengajariku mengendarai motor, ia selalu memintaku membunyikan klakson, menyalakan lampu sent serta melihat kaca spion sebelum mendahului kendaran....

Kumbokarno Gugur: nguri-uri Kebudayaan dan Gus Dur

Pagelaran wayang 1000 Hari Gus Dur   Ba’da isya’ (26/09) ratusan orang sudah berkumpul di kediaman Gus Dur, Ciganjur. Semua orang lintas etnis dan agama, berkumpul dalam satu wadah demi memperingati 1000 hari Gus Dur. Kata “memperingati” memiliki kata dasar ingat dengan awalan me - dan akhiran – i , dimana dalam hal ini menjadi sebuah upaya untuk mengenang atau membuka lembaran-lembaran lama tentang Gus Dur. Bagi saya—tentu ini sangat sujektif—Gus Dur ibarat batu kristal yang memiliki banyak sisi. Pada setiap sisi yang kita dekati, selalu saja ada keindahan tersendiri. Ya. Itulah Gus Dur dengan segala keluar-biasaan dalam keterbiasaannya. Malam itu kita diajak mengenal Gus Dur melalui pendekatan Budaya. Pagelaran wayang semalam suntuk sengaja diadakan keluarga ndalem. Alissa Wahid, Putri sulung Gus Dur, menceritakan bagaimana kecintaan Gus Dur terhadap budaya, wayang khususnya. Dulu saat mbak Alissa masih duduk di bangku perkuliahan di Yogyakarta, setiap Gus Dur d...