Langsung ke konten utama

Shin Suikoden: Revolusi “Perampok” Vs Perampok



Eiji Yoshikawa, Shin Suikoden, Alih bahasa: Jonjon Johana. Jakarta: Kansha Book, 2011. 486 halaman.

Alam semesta terus bergerak; seperti pendulum kiri-kanan, seperti siklus air yang terus mengalir, hingga sejarah manusia pun selalu berubah. Segala gerak itu akan berujung pada sebuah masa dimana terdapat titik balik (Fu)— gerakannya alamiah dan muncul secara spontan—sehingga semua kembali harmonis.
Nama Eiji Yoshikawa selalu selalu dekat dengan novel fiksi yang kental dengan sejarah. Bisa dikatakan pula, dia merupakan penulis terhebat dalam genere tersebut. Melalui Shin Suikoden, Eiji mengajak kita menyusuri sejarah China pada masa Dinasti Sou (Dinasti kedelapan). Suikouden (Batas Air), merupakan satu diantara legenda China klasik—perjuangan 108 pendekar dibawah kepemimpinan Song Jiang pada masa Dinasti Song—yang masyhur dan selalu diceritakan dari zaman ke zaman.
Novel ini dimulai dengan kisah diutusnya Jendral Kou Shin oleh Kaisar Jin Sou (keturunan keempat Dinasti Sou), menemui pendeta Kyo Sei di pedalaman kuil Jou Sei untuk memanjatkan doa tolak-bala’ wabah penyakit yang melanda Negara Dai Sou. Sampai  di kuil, ternyata sang pendeta sedang melakukan pertapaan di puncak pedalaman Gunung Ryu Kou. Bagi yang ingin melakukan perjalanan menuju puncak Ryu Kou, ia diharuskan menyucikan diri. Jenderal Kou Shin menyanggupi syarat itu. Sial baginya, meski telah melalui berbagai rintangan, ia tak bersua dengan Sang Pendeta Sakti. Penjaga gunung Ryu Kou memberi tahu Kou Shin bahwa pendeta Kyo Sei telah menuju istana dengan menunggangi burung Bangau.
Meski tahu Pendeta Kyo Sei ada di istana, Jenderal Kou tak segera kembali. Demi menjaga nama besarnya sebaga Jenderal, ia tak mau kembali ke ibukota dengan tangan kosong. Ia berkeliling kuil Jou Sei. Ketika sampai pada wilayah terdalam, perhatiannya tertuju pada sebuah dinding batu yang diikat dengan rantai dan bergembok. Saat melihat kata yang terukir dalam pilar batu, “Ruang Pengekangan Iblis” rasa ingin tahu Kou Shin menghalalkan segala cara. Dengan kekuasaannya, ia memaksa para pendeta untuk membuka pintu tersebut.
Bukan tanpa sebab kenapa ruang tersebut menjadi rahasia. Di dalamnya terdapat 108 bintang iblis jahat dari seluruh alam mayapada, mereka ditangkap oleh pendeta suci dari zaman ke zaman. Atas kecerobohan Jenderal Kou, 108 bintang Iblis lepas. Satu demi satu menjelma menjadi manusia dan membentuk benteng Ryou Zan Paku, tempat berkumpulnya 108 jawara yang hampir menghancurkan Dinasti Sou.
Selang tiga periode tampuk kekaisaran, Kaisar Ki Sou (kaisar kedelapan dinasti Sou), bisa dikatakan zaman ini merupakan titik puncak kebudayaan dinasti Sou. Sebab perkembangan seni dan arsitek istana begitu megah. Mulai muncul pula seni drama tradisional. Sejak muda, pangeran Ki Sou terkenal suka bersenang-senang. Tak ayal, ketika duduk ditampuk kekaisaran ia kurang memperhatikan rakyatnya. Jurang pemisah antara miskin dan kaya begitu nyata, pemerintah memungut pajak begitu tinggi dan, perampokan terjadi dimana-mana. Tidak sedikit elit pemerintahan yang menerima suap dan bertindak sewenang-wenang. Seluruh kota dipenuhi teriakan dendam rakyat yang sengsara. Satu demi satu 108 bintang, menjelma menjadi manusia yang siap untuk menjatuhkan kekuasaan.
***
Di awal jilid pertama ini (secara keseluruhan terdapat 4 jilid) Eiji memperkenalkan kisah hidup jawara satu per satu yang jalin-berkelindan. Shi Shin, Pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antar-lelaki sejati. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut. Cendekiawan Go si Bintang Banyak Akal. Dengan ditemani enam bintang lainnya, kecerdasan cendekiawan Go ditunjukkan dengan mencuri hadiah kiriman Penguasa Hoku Kei kepada Menteri Sai dari para prajurit tanpa pertumpahan darah. Selang beberapa hari, pertistiwa itu terendus oleh pemerintahan Hoku Sai. Dengan semena-mena, para petinggi memerintahkan bawahannya—terus menerus seperti rantai makanan—dengan ancaman dipecat dan  diasingkan jika tak mampu menangkap perampok dalam sepuluh hari. Dari sinilah kisah Sui Kou Den mulai mengerucut ke mana arah ceritanya.
Mungkin Anda akan enggan membaca hingga tuntas ketika baru membaca bagian awal Shin Suikoden. Alur cerita yang rumit serta arah cerita yang belum jelas, mungkin Anda  ingin kembali menaruhnya kembali di rak buku. Jika Anda termasuk orang tersebut, saya yakin Anda akan menyesal jika dikemudian hari banyak orang bercerita tentang kehebatan novel ini. Jika sedikit mau bersabar dan menikmatinya, sebenarnya Eiji akan mengajak kita berwisata mengamati sejarah panjang masyarakat Tiong Hoa secara lebih dekat dalam bentuk yang renyah.
Novel ini melibatkan banyak tokoh dari berbagai wilayah, seolah tak ada benang merah antara satu bab dengan bab yang lain. Dari empat jilid buku yang ia buat ini, jilid pertama ini merupakan awal cerita Shin Suikoden. Sebagaimana tulis Eiji, “….sebagai permulaan, kita cukup mengetahui bagaimanakah sungai kisah ternama waktu itu bergulir.” (hal. 55)
***
Salah satu kekuatan dari novel setebal 486 halaman ini, kekayaan metaforanya yang tak henti membuat pembaca berdecap kagum. Tak jarang Eiji menyisipkan beragam filsafat hidup tradisi Timur. Keteguhan membela kebenaran dan kesetiakawanan adalah dua prinsip yang dipegang oleh setiap bintang.  Deskripsi yang menyeluruh, membuat pembaca merasa puas diajak berwisata menjelajahi kebudayaan China klasik.
Dalam segi penokohan, tokoh utama dalam Shin Suikoden bukanlah orang yang sempurna dalam segala hal. Layaknya realitas kehidupan, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan. Demikian juga dengan birokrasi pemerintahannya, meski atmosfer keadilan dan kejujuran hampir tidak ada, masih terdapat pula para pejabat yang masih membela rakyat. Eiji memberikan tanda pada setiap bintang yang dikisahkannya, misalnya dalam bentuk rajah, bintik merah, biru, dan sebagainya.
Kisah pelarian tujuh bintang dari kejaran pemerintah, membuat alur cerita semakin terang. Pembaca mau tak mau harus mengingat-ingat siapa tokoh dan nama-nama tempat dalam cerita terseut, sebab kita harus bersabar menanti-nanti kapan jilid ke 2 dari Shin Suikoden diterbitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

Sejarah Berdiri PPMI Assalaam Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam merupakan karya besar yang lahir dari kegiatan pengajian keluarga. Bermula dari kecintaan H. Abdullah Marzuki dan istri, Hj. Siti Aminah, terhadap kegiatan pengajian keislaman Bapak H. Abdullah Marzuki di sela-sela kesibukan mengelola bisnis penerbitan Tiga Serangkai (TS), beliau mengajak semua keluarga, termasuk keluarga pegawai TS, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian demi meningkatkan kualitas Ilmu, iman, Islam, dan amal saleh. Di lihat dari latar belakang keluarga, sejak awal keluarga H. Abdullah Marzuki memiliki komitmen yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebelum terjun ke dunia penerbitan dan percetakan, beliau dan istri sudah menjalankan profesi sebagai guru ( mu’allim ). Jiwa mendidik ini menggelora dan mendarah daging dalam urat nadi keluarga beliau sehingga di mana pun beliau berada selalu peduli terhadap pendidikan. Kepedulian beliau terhadap pendidika...

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof

Dualisme-Cartesian; Dalam Perdebatan Para Filosof [i] Oleh: Ngabdulloh Akrom Abstraksi Keterpilahan antara kesadaran [mind] dan materi [matter]—dualisme cartesian—dianggap ikut bertanggung jawab terhadap munculnya pelbagai krisis global, seperti krisis ekologi, kekerasan, konflik yang makin mengental, reifikasi, alienasi, dan dehumanisasi. Fenomena ini juga tidak dapat lagi dugunakan untuk memahami fenomena-fenomena fisis, biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling terkait satu sama lain. [ii] Sekilas melihat, begitu mengerikan dampak dari dualisme-cartesian. Karena pernyataan di ataslah penulis ingin mengkaji lebih terperinci mengenai dualisme-cartesian. Dalam makalah ini, penulis mencoba melihat secara kritis apa itu dualisme-cartesian, dan membandingkan pemikiran antara Descartes, Hobbes, Locke dan Leibniz mengenai dualisme-cartesian. Untuk sistematika penulisannya, penulis melihat bagaimana pemikiran Descartes mengenai hubungan antara ji...

BIDAYAH AL-HIKMAH: Mukadimah

BIDAYAH AL-HIKMAH (karya: Allamah Thabathaba’i) Oleh: Ngabdulloh Akrom PENDAHULUAN Dengan nama Allah,  Mahamemberi dan Mahapengampun. Segala puji hanya bagi - Nya, tempat kembali segala realitas. Shalawat dan salam atas rasul, dan Muhammad ciptaan terbaikNya, dan ahlul baitNya yang sucikan. Definisi, Subjek, dan Tujuan dari Hikmah Metafisikan (Hikmah al-Ilahiyah), secara literal berarti kearifan ilahi ( divine wisdom ) adalah disiplin ilmu yang membahas perihal eksistensi ( wujud ) sebagai mana adanya ia ( wujud bima huwa maujud ). Subjeknya berkaitan dengan sifat esensial (essential properties/’ awâridh dzatî  ) dari wujud itu sendiri. Tujuanya adalah mengetahui berbagai wujud secara general untuk memisahnya dari wujud non-hakikat (realitas semu). Sebagai contoh; ketika seseorang memikirkan tentang dirinya, maka ia menemukan adanya realitas di dalam dirinya. Dia juga menemukan adanya realitas di luar dirinya yang juga hakiki dan ia bisa mengetahui keberadaan wujud (being) y...